Senin, 31 Desember 2012

Asal Mula Tradisi Meniup Terompet

Sebenarnya budaya meniup terompet merupakan budaya kaum Yahudi saat menyambut tahun baru. Tahun baru mereka jatuh pada bulan ke tujuh sesuai sistem penanggalan mereka. Pada malam tahun barunya, masyarakat Yahudi melakukan introspeksi diri dengan tradisi meniup shofar, sebuah alat musik sejenis terompet. Terompet sudah ada sejak tahun 1.500 sebelum Masehi. Awalnya, alat musik ini digunakan untuk keperluan ritual agama serta digunakan saat akan berperang. Kemudian terompet dijadikan sebagai alat musik pada masa pertengahan Renaisance hingga saat ini. Begitulah akhirnya terompet menjadi tradisi untuk menyambut malam tahun baru masehi. MAKA HATI HATI..JANGAN IKUT..SEPERTI SABDA RASULULLAH Terjemahan: Dari Ibnu Umar Radiyallahu'anh uma ia berkata: Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda: "Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka." (HR. Abu Daud, Hadits ini dinilai shahih oleh Ibnu Hibban.). (Shahih) HR. Abu Daud no. 4031. Syaikh al-Albani berkata dalam Shahih Sunan Abu Daud 2/504: "Hasan Shahih". Dan dalam pandangan ilmu elonomi adalah Pemborosan PERAYAAN tahun baru masehi Yaitu beli kembang api dan jalan-jalan dengan isi BBM Full dll dalam segi ekonomi adalah PEMBOROSAN ilmu ekonomi tentang pemborosan itu TERDAPAT dalam Al-Qur'an "Dan janganlah kamu menghambur-hamb urkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pembor os itu adalah saudara-saudara syaitan." (QS. Al Isra' [17]: 26-27). Maksudnya adalah mereka menyerupai setan dalam hal ini. Ibnu Mas'ud dan Ibnu 'Abbas mengatakan, "Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu pada jalan yang keliru." Mujahid mengatakan, "Seandainya seseorang menginfakkan seluruh hartanya dalam jalan yang benar, itu bukanlah tabdzir (pemborosan). Seandainya seseorang menginfakkan satu mud saja (ukuran telapak tangan) pada jalan yang keliru, itulah yang dinamakan tabdzir (pemborosan)." Qotadah mengatakan, "Yang namanya tabdzir (pemborosan) adalah mengeluarkan nafkah dalam berbuat maksiat pada Allah, pada jalan yang keliru dan pada jalan untuk berbuat kerusakan." wallahu a'lam bish-shawab Posted by Ahmad Syafriza Nasution

1 komentar: